Open post
Juarai Liga Italia 2020-2021, Bukti Inter Milan Bukan Tim Tempat Sampah

Juarai Liga Italia 2020-2021, Bukti Inter Milan Bukan Tim Tempat Sampah

Pelatih Inter Milan, Antonio Conte, benar-benar bangga dengan perjuangan skuad asuhannya untuk menjuarai Liga Italia musim 2020-2021. Conte juga menilai keberhasilan ini menjadi bukti bahwa Inter bukanlah tim tempat sampah seperti yang dikatakan para penggemar rival mereka.

Sebagaimana diketahui, manajemen Inter memang menerapkan kebijakan transfer yang aneh dalam dua musim terakhir. Ya, mereka lebih gemar mengumpulkan pemain-pemain senior yang mulai kehilangan tempat di tim sebelumnya.

Beberapa nama pemain uzur yang diboyong Inter dalam dua musim terakhir adalah Ashley Young, Alexis Sanchez, Arturo Vidal, Aleksandar Kolarov, dan Ivan Perisic. Nama-nama tersebut dinilai sudah habis dari masa-masa keemasan mereka.

Bahkan kebijakan transfer Inter tersebut mendapatkan mendapatkan protes dari para pendukungnya sendiri. Tidak sedikit dari mereka yang merasa pesimis soal peluang Inter menjadi kampiun Liga Italia musim ini.

Akan tetapi kenyataannya, para pemain yang awalnya disebut sudah habis itu justru berhasil memberikan kontribusi luar biasa. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang berhasil menjadi pembeda ketika Inter sedang dalam kondisi deadlock.

Conte sendiri mengaku memang menaruh kepercayaan tinggi kepada para pemain-pemain senior tersebut. Pasalnya Conte sadar bahwa untuk bisa membawa kesuksesan ke Inter, maka ia butuh pemain dengan mental juara seperti nama-nama tersebut.

“Mereka merupakan tim pemenang. Mereka memiliki keseimbangan antara menyerang dan bertahan yang sama baiknya,” jelas Conte, sebagaimana dilaporkan oleh Football Italia, Senin (3/5/2021).

“Para pemain terus belajar membaca permainan dan kapan waktunya untuk menekan lawan, serta kapan untuk lebih santai di area kami sendiri dan menunggu. Itu merupakan sebuah tanda dari tim yang berpengalaman,” sambung eks pelatih Chelsea tersebut.

“Seorang pelatih harus mengerti bagaimana cara menyakiti lawan, tapi juga tidak kehilangan jati diri. Kami tidak pernah kehilangan identitas kami, karena ketika kami menguasai bola, kami tahu persis apa yang harus kami lakukan. Kami juga tahu persis apa yang harus dilakukan saat kami tidak menguasai bola,” tuntasnya.

Hasil Skor Bola UNOGOAL

Livescore Unogoal

Open post
Kevin Diks, Bek Berdarah Indonesia yang Tak Diminati PSSI

Kevin Diks, Bek Berdarah Indonesia yang Tak Diminati PSSI

PSSI sudah menegaskan tidak berminat untuk menjadikan Kevin Diks, pemain Belanda keturunan Indonesia untuk menjadi bagian dari Timnas Indonesia.

Nama Kevin Diks ramai disebut memiliki hasrat untuk membela Skuad Garuda setelah ucapannya di media sosial beberapa waktu lalu. Diks merupakan pemain kelahiran Apeldoorn, Belanda, 6 Oktober 1996.

Pemilik nama lengkap Kevin Diks Bakarbessy ini memiliki darah Indonesia dari sang ibu yang merupakan wanita berdarah Maluku, Indonesia.

Saat ini bek dengan tinggi 182 cm itu tercatat sebagai pemain Fiorentina sejak 2016 lalu.

Pemain berusia 23 tahun itu memulai karier usia mudanya bersama VIOS Vaassen (2002-2004), AGOVV Apeldoorn (2004-2005) dan Vitesse Arnhem (2005-2014) sebelum pindah permanen ke klub Italia, Fiorentina. Baru setahun di Fiorentina, ia kemudian menjadi pemain yang dipinjamkan ke beberapa klub; Vitesse, Feyenoord, dan FC Empoli.

Dalam sebuah wawancara, Diks bercerita jika setahun terakhir dia bermain bersama klub asal Denmark, Aarhus GF. Ia dipinjamkan Fiorentina setelah mengalami cedera cukup parah di lutut yang membuatnya harus beristirahat selama 1,5 tahun untuk pemulihan.

Diks juga tercatat pernah tampil bersama Timnas Belanda U-19 pada 2014/2015, U-20 2015 dan U-21 pada 2016 lalu. Hal itu yang akhirnya membuat PSSI enggan menarik Diks untuk memperkuat Timnas Indonesia.

Dalam rilis resmi, PSSI menyebut ada dua hal yang membuat Diks dirasa sulit untuk bergabung dengan Timnas Indonesia. Pertama, PSSI saat ini fokus mencari pemain keturunan yang berusia di bawah 20 tahun untuk memperkuat Timnas U-20 di Piala Dunia U-20 2021.

“Usia (Diks) yang tidak mungkin kita masukkan ke dalam skuad timnas Indonesia di Piala Dunia 2021. Karena kita mencari pemain yang masih berumur 18 dan 19 tahun,” kata Plt Sekjen PSSI Yunus Nusi.

Selain itu, catatan Kevin Diks yang pernah bermain untuk Timnas Belanda saat berumur 21 tahun juga dianggap menjadi batu sandungan. PSSI mengatakan dalam Pasal 5 Ayat 2 Statuta FIFA disebut bahwa seorang pemain yang pernah membela sebuah negara pada kompetisi resmi FIFA tidak berhak untuk membela asosiasi lain pada pertandingan internasional.

Dalam Statuta FIFA tentang status pemain yang berganti asosiasi disebutkan bahwa pemain hanya boleh sekali berganti kewarganegaraan sehingga dia diperkenankan membela negara lain dalam pertandingan internasional.

Syaratnya, pemain tersebut tidak pernah bermain di pertandingan resmi Level A bersama asosiasi sebelumnya, termasuk hanya sebagai pengganti. Apabila dia pernah bermain untuk negara lain, dia tidak berhak bermain lagi untuk asosiasi barunya.

“Ini yang pernah dialami Ezra Walian sehingga gagal melakoni pertandingan-pertandingan Kualifikasi Piala Asia 2020. Ezra tidak bisa memperkuat Indonesia karena dia pernah bermain di timnas Belanda di level junior pada kompetisi resmi UEFA,” tambah Yunus.

Rekomendasi Situs Liveskor Sepakbola

Padahal FIFA tengah mengajukan proposal amandemen Statuta terbaru dalam Kongres FIFA ke-70 secara virtual pada 18 September lalu, di mana Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan dan Sekjen serta Wasekjen hadir.

Salah satu yang diamandemen adalah pelonggaran aturan terkait naturalisasi pemain yang tertera dalam pasal 9 proposal amandemen statuta FIFA 2020 tentang perubahan asosiasi.

Perubahan itu membuka kemungkinan Diks untuk membela Timnas Indonesia di kemudian hari. Termasuk pemain keturunan lain yang berencana untuk dinaturalisasi meski pernah membela timnas negara sebelumnya.

Dalam amandemen Statuta FIFA terbaru, pemain tetap bisa membela negara barunya asalkan penampilan terakhir bersama timnas di negara sebelumnya belum berusia 21 tahun. Tak hanya itu, penampilan terakhir pemain bersama timnas lamanya juga harus sudah melewati masa tiga tahun.

Open post
Alves Maklumi Tuduhan Messi Tentang Korupsi yang Untungkan Brasil

Alves Maklumi Tuduhan Messi Tentang Korupsi yang Untungkan Brasil

Dani Alves mewajarkan komentar Lionel Messi yang mengatakan terdapat praktek korupsi pada penyelenggaraan Copa America 2019. Untuk bintang 36 tahun itu, La Pulga tengah di dalam pengaruh emosi saat mengucapkan hal begitu.

Di partai perburuan posisi ke 3 kontra Cile, Messi mesti diusir meninggalkan gelanggang pada pertengahan paruh perdana. Usai pertandingan, dia mengatakan terdapat pergerakan sistematis yang memungkinkan Brasil mengangkat trofi di Copa America 2019 ini.

Alves juga tak mau mengulas lebih lanjut tuduhan mantan rekan seklubnya di Barcelona itu. Walau di lain pihak, dia senantiasa tak sepakat dengan apa yang dibilang Messi tentang tanah airnya di Copa America kali ini.

“Tidak selamanya ia benar dan tak selamanya juga kita perlu sepakat pada apa yang dia ucapkan. Di kala itu, dia tengah emosi jadi saya pikir lumayan wajar ia menyatakan hal tersebut. Namun, saya tetaplah tak sepakat dengan pandangannya kala itu, ” tutur Alves sebagaimana dilansir dari Sport English.

Brasil berhasil mengangkat trofi pada penyelenggaraan Copa America 2019 yang bergulir di tanah sendiri. Kesuksesan ini membikin Selecao menjaga rekor terus jawara saat menggelar kompetisi ini di rumah sendiri.

Sebelumnya, hal itu sudah berlangsung pada 1919, 1922, 1949, dan 1989. Total telah terdapat 9 piala yang sukses dikumpulkan Brasil di dalam penyelenggaraan Copa America semenjak pertama-tama berlangsung pada 1916.

Open post
Sergio Reguilon Berniat Perjuangkan Posisi Inti di Madrid

Sergio Reguilon Berniat Perjuangkan Posisi Inti di Madrid

Nama Sergio Reguilon mencuat bareng Real Madrid kompetisi musim ini. Meski begitu dia masih sewajarnya memperjuangkan posisi kunci sebab mesti kompetitif dengan bintang sekelas Marcelo di posisi defender sebelah kanan.

Tahu rivalitas luar biasa dengan Marcelo, Sergio Reguilon berniat bakal senantiasa memperjuangkan posisinya. Dia mau senantiasa dipercaya juru tak-tik Zinedine Zidane untuk mengisi starting 11 kompetisi musim berikutnya.

“Masih terlampau dini untuk melihat apa yang bakal berlangsung, yang aku paham ialah aku telah berupaya tidak sedikit untuk ada di kesebelasan kunci Real Madrid dan ini bakal senantiasa aku perjuangkan lagi kompetisi musim berikutnya, ” tutur Reguilon sebagaimana dilansir Football5star. com dari El Espanol, Rabu (22/5/2019).

“Saya masih terikat kesepakatan kontrak di sini. Aku tak paham apa yang bakal berlangsung pada masa mendatang namun aku amat girang dan rileks di sini. Aku senantiasa kerja tiap hari untuk berlaga semaksimal mungkin, baik untuk tim mau pun timnas dan ini merupakan keputusan juru tak-tik untuk memilih, ” lanjutnya.

Tak cuma bareng Los Blancos, bintang berumur 22 tahun ini jua memburu 1 posisi di tim nasional Spanyol. “Saya bakal senantiasa berlatih dengan keras hingga mereka dapat memanggil aku suatu saat mendatang untuk memperkuat Spanyol, ” jelasnya.

Selama kompetisi musim 2018-2019 Sergio Reguilon mengoleksi 21 penampilan di seluruh turnamen, 4 di antaranya dibukukan di Liga Champions. Dari 21 permainan itu ia sukses mencatat 3 assists.

Open post
Tottenham Layak Peroleh Tiket Semi-final Liga Champions

Tottenham Layak Peroleh Tiket Semi-final Liga Champions

Juru tak-tik Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino, menyatakan jika para pemainnya berhak menuju ke semi-final Liga Champions usai berupaya keras. Anggapannya, 2 pertandingan kontra Manchester City berlangsung dengan amat sengit.

The Lilywhites sukses menuju ke fase perempat-final usai menang produktivitas goal tandang melawan Manchester City. Pada fase semi-final, Lucas Moura dkk bakal melawan kesebelasan underdog lain, Ajax Amsterdam yang sukses menghempaskan Juventus pada fase perempat-final.

“Rasanya fantastis dapat menuju ke fase semi-final Liga Champions usai menghajar Manchester City. Ke 2 pertandingan berlangsung dengan amat menantang. Aku amat girang sebab kami dapat menyarangkan tiga gol vs Manchester City, ” kata Mauricio Pochettino diberitakan situs web UEFA.

“Hal paling penting ialah kami ada pada fase semi-final Liga Champions. Kami layak ada pada semi-final usai bekerja keras menghadapi Manchester City. Pemain-pemain adalah pahlawan yang berhak mendapat kredit maksimal. ”

Kesuksesan itu adalah kali perdana Tottenham dapat menuju ke fase semi-final Liga Champions. Langkah mereka guna menuju ke Final tetap terbuka lebar. Tapi, Pochettino keberatan guna meremehkan Ajax yang sukses main mengesankan kompetisi musim ini.

“Sepak bola merupakan olah raga yang tak dapat ditebak. Apabila menyaksikan cara berlaga Ajax, aku percaya pertandingan mendatang bakal berlangsung dengan amat terbuka. Pertandingan mendatang bakal berlangsung amat sengit selama 2 leg. ”

Posts navigation

1 2 3 4
Scroll to top